Benar saja, aku melihat Tomo berbenah memberesi bajunya dan bergerak menuju pintu.Dia membuka pintu dan melihat diriku mematung sambil menangis di sana. Bokeb tidaak!!” aku sangat malu melakukan posisi itu.Tetapi Tomo tidak peduli dan melanjutkan kembali permainannya. Aku pun merasa heran dan sedikit takut. Aku mendesah panjang. Dia selalu membelikan baju-baju indah dan boneka porselain untuk dipajang dikamar tidurku. Enam bulan pun berlalu. Senyuman misterius menghiasi wajahnya. Tubuhku masih bergetar. Tepat jam 10.30 malam, aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku berbunyi.“Tomo sudah pulang!!”, pikirku senang.Aku pun berlari keluar kamar untuk menyambutnya. Sakit!! Tapi, dia juga bersikap disiplin. Aku nggak marah kok. Aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan, asal kau tidak membenciku.” Aku masih terisak.“Anak bodoh.. Tapi, aku tetap tidak bisa beranjak dari sana. Aku pun merasa heran dan sedikit takut. Kenapa??!!”Dia melihatku dengan pandangan marah. Tomo sangatlah baik padaku. Dia memperhatikanku sejenak dan senyuman misterius itu hadir lagi.Dia pun membungkukkan tubuhnya,“Hey, tukang ngintip




















