“Le-lepaskan aku! Bokep Tobrut Perlahan, ia melepaskan cengkramannya pada bahuku. Bahuku terasa semakin sakit. “Don’t miss him?”
“Ngapain lagi?” aku tertawa ngakak. “Kita dimana nih?”Fung beringsut mendekat. “Ngapain kok kasar?”Seperti disiram air sedingin es, Fung tersadar. Bibirnya terasa basah dan hangat. Ia sesekali membisikkan kata-kata yang memabukkan ditelingaku sambil mencumbuinya. Lalu menjalar ke leherku. Selama perjalanan pulang dia tidak berbicara sepatah katapun.Demikian juga dengan diriku. Tubuhnya membentur dashboard mobil dan menimbulkn bunyi yang sedikit keras. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku hingga aku bisa merasakan nafasnya.“Coba kulihat.” katanya pelan semakin mendekatkan wajahnya. Tubuhku gemetaran tidak keruan, dan sesaat kemudian aku merasakan menelan sesuatu yang asin dan bibirku terasa perih. Mungkin dikarenakan aku membuka pikiranku sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang namanya beban berat di bahuku.Dan, oleh karena itu, aku mempunyai satu tujuan belajar internet.




















