“Jangan.., Mas.., banyak orang..”
“Makanya.., kita cari tempat, ya..”
Sari berberes sementara aku menstart mobil. “Jangan khawatir.., aman”, kataku. Bokep Jilbab/Hijab Tanganku kembali meremasi bukit kecil kenyal itu sambil secara bertahap mencopoti kancing kemejanya. Hampir.., hampir.., dan “Creett”, Kusemprotkan maniku ke dalam mulut Sari. “Sama Mas dong..”. “Udah malem.., Mas.., Lain kali aja ya?”, Aku mulai jengkel. “Tenang aja Mas.., rahasia dijamin, ya Sari”, kata Bu Maya sambil mengedip penuh arti.Setelah menurunkan Bu Maya di halte, aku langsung mengarah ke Setia Budi. Aku bingung. Tentu ini ada “ongkosnya”, yaitu aku tak pernah minta uang kembalian.Agar bisa bebas menjamah, aku pilih waktu yang tepat jika ingin membeli sesuatu. Keteganganku yang tadi sempat turun oleh “gangguan” orang lewat, kini naik lagi. Sayangnya, aku harus membagi konsentrasiku ke jalan.Menjelang pertigaan Cihampelas Sari melepas jilatannya, bangkit melihat sekeliling. Bu Maya (sebut saja begitu) kawan sekerjanya yang telah berkeluarga ada di sampingnya.




















