“ Kan Winda masiah latiah, disiko sajo lah. Ya kadang dalam perjalanan jika perut lapar, mereka singgah untuk makan dan Winda selalu berusaha untuk membayar, sebab sebagai seorang wanita selalu ada perasaan tidak enak, jika semuanya menjadi tanggungannya. Bokepindo Winda pun akhirnya telah menganggap Johan seperti kakaknya sendiri. Winda diam, matanya terpejam dan menikmati betapa gairahnya yang telah terbit kembali meluap. Saat itu hari jumat sore sekitar jam 17.30. Begitu juga dengan latar belakang Johan Winda tidak begitu tahu. Rupanya ia baru saja membeli sebuah kalung berwarna seperti emas putih. Johan pun menghentikan kecupannya meskipun tangan kirinya masih merangkul bahu Winda agar tetap rapat menempel pada dirinya. ”Biasalah laki – laki, suka menyanjung. Winda menurut membiarkan, malah membantunya. Mulai dari statusnya, usianya juga pekerjaannya. Ia lalu memanggil Winda dan mengatakan bahwa adiknya Johan juga mau ke Padang untuk membawa muatan yang akan di bongkar di Padang.




















