Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Sekali. Bokep Arab Sekali. Hap.“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.“Ya.”Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Tapi ia dingin sekali. Aku menggelepar.“Sst..! Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Tapi ia dingin sekali. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Dan kubuka celana pantai. Suara itu lagi. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Di mana? Aku hanya main dengan tangan. Ke bawah: Tidak. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Jam berapa aku berangkat. Come on lets go! Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Come on




















