” kataku makin berani. Bokep Crot Ah apa saja. “ Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh. ” pintanya penuh manja. Kali ini dengan telapak tangan. Haruskah kujawab sapaan itu ? Dia mencari-cari. ” ujarnya. Ya nggak apa-apa, ” katanya menjawab telepon. Dia berlutut mengelap selangkangan bagian belakang. Aku mengambil pakaianku. “ Mbak Fera, pasien menunggu, ” katanya. Aku masih diam saja. Dia berlutut mengelap selangkangan bagian belakang. Ah mengapa begitu cepat. Anggap saja tdiap-tdiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Aku masih termangu. Lho, salon kan tempat umum. Atau jangan-jangan dia juga disuruh ibunya bayar arisan. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Angkot melaju. ”
Dia berdiri. Lihatlah, masak dia begitu berani tadi menyentuh kepala Kejantananku saat memijat perut. Bodoh, bodoh, bodoh. Ah segar. Haruskah kujawab sapaan itu ?




















