Mulutnya berkicau terus, bertanya-tanya mengenai profesiku. Mikha tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Bokep Cina Lalu kami pun menuju mobilku. Lho, kok aku bicara politik. Mikha memandangku saat sebuah lagu romantis terdengar. Boleh ya? “Iya”. Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka. Kami pun setelah itu menuju kostku, kembali memadu cinta. “Iya”. Perlahan menunduk. “sshh…, sshh…”
Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual. Mikha terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara. “Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya”
Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Mikha, saya juga, saya nggak bakal lupa”. Di sana kami terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah Mikha tadi.




















