Kemudian aku diangkat dan aku sempat kaget!“Kak Agun…, kuat juga”. Aku melihat Kak Agun berdiri sambil menyandarkan sepeda sportnya ke garasi. Bokeb Sesaat diam dan ketika mulai dinaik-turunkan aku menjerit lagi, “Auchh…, auchh…”. Aku menikmati saja tapi ketika melihat darah kegadisanku di atas sprei, aku jadi bingung, takut, malu dan sedih. Aku hanya bisa diam dan menikmati. Jemarinya memainkkan clit-ku. “Auuchh…”, aku menjerit.“Achh!”, Terasa dunia ini berputar saking sakitnya. “Kak Agun, Jangan…, ach…, ch…, ss…, jangan”. Tangan Kak Agun menelusup ke CD-ku.Aku menjerit, “Jangan…, jangan…”, aku berusaha menarik diri. Tubuhnya yang dibalut kaos ketat nampak basah keringat.“Barusan olah raga…, muter-muter, terus mampir…, Mana Kak Luna?”, tanyanya. “Nah…, karena kamu sudah menyelesaikan PR-mu, aku kasih hadiah” kata Kak Agun. Kata mereka sih aku cantik.




















