Kesempatan tidak akan datangdua kali. Bodoh, bodoh, bodoh. Bokepindo Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Begini saja daripada repotrepot.Anggap saja tiaptiap baju sama dengan jumlah kancingbajuku: Tujuh. Alamak.., jauhnya. Ataujanganjangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya purapura masuk. Jam berapa harussampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yangpenuh gelora itu. ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi kebalik ruangan ke meja depan ketika ia menerimakedatanganku.Mbak Wien.., udah ada pasien tuh, ujarnya dari ruangsebelah. Ah apa saja. Ia malah melengos. Sopir menepikankendaraan persis di depan sebuah salon. Angin menerobos dari jendela.Masih ada waktu bebas dua jam. Ya nggak apaapa, katanya menjawab telepon.Siapa Mbak..? Daripada suntuk diam di rumah, tadimalam aku menyelesaikan kerjaan yang masihmenumpuk. Aku masih mematung. Dadaku mulai berdeguplagi. Aku terlambat setengah jam.Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernyaada keringat sudah terbayang.











