Dalam keremangan lampu kamar (kamar lampuku bisa disetel tingkat keterangannya sedemikian rupa) kulihat ada 2 manusia. Wah.. Bokeb Paakk..”. Paakkhh, oohh.. Selama ini dia tidak berani menatapku. Sengaja kali ini aku tidak memberitahu agar lebih dahsyat pekikan-pekikan kangen isteriku itu. Cairan miliknya sampai tumpah ruang merembes keluar memeknya, punyaku juga demikian saking tidak tertampungya semprotan maniku. “Ehhss.. Ssooddooghh.. Apa yang sedang berlangsung di depan mataku ini? “Yaahhss.. Dia selalu memakai kebaya dan kain.Kepalanya ditimpakan di dadaku. Tadi gerbang depan dibukakan oleh pembantu wanitaku karena kebetulan dia pas lagi mau keluar untuk membuang sampah. Keelluaarr.. Keteknya dibiarkan berbulu, ah sensasional sekali. Rambutnya otomatis megenai hidungku. Apa yang sedang berlangsung di depan mataku ini? “Geennjoott.. Kuning agak pucat warnanya.




















