Tanganku menyusup ke balik CD-nya. Bokep Jilbab/Hijab “Mama tadi pesan”. Sampai di pertigaan jalan Panorama macet lagi. Sampai di perempatan aku harus ambil keputusan mau ke mana? Kenakalanku makin meningkat. Mau ngapain di Lembang? Macam-macam alasannya. Sebentar lagi.., hampir..! Entah kenapa Sari mau saja kuganggu. Memang pada waktu yang bersamaan aku menyalip motor dan si pembonceng sempat melihat kelakuan tanganku.Kami sampai di Lembang. Kenakalanku makin meningkat. Sebentar lagi.., hampir..! Masih genit dan sedikit manja. “Kita minum dulu ke sini, ya..?”, ajakku untuk mampir di tempat minum susu segar yang biasa ditongkrongi anak-anak muda. “Ih, Mas.., dilihat orang”, sergahnya menepis tanganku. Kami berlagak “alim” sampai kedua orang itu lewat. Kalau bawa orang lain bisa terbongkar belangku oleh kawan kantor. Terkadang nakal dengan sedikit menggigit. Aku kembali menuju Bandung. “Gila..! Aku bebas saja mendesah, melenguh, atau bahkan menjerit kecil, tempat parkir yang luas itu memang sepi. Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya.


