Sebentar. Kini keinginanku menjadi kenyataan. Bokep Tobrut Ia menekan tubuhku hingga merapat ke tubuhnya. Hey, seleramu lembut juga. Kurasakan jemari tangannya yang lain meraih tanganku. Kami saling terpaku beberapa saat, sebelum akhirnya ia berkata, lebih mirip desis gusar,
“Kamu hanya mau diam begitu?”
“Sial,” makiku. Kulihat lehernya yang putih bergerak-gerak saat ia menghabiskan setengah dari isi gelasnya. “Tidak, wajahmu barusan, seperti anak kecil yang baru saja memecahkan kaca jendela. “Kamu akan melakukannya sekarang? “Apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanyaku lirih. Kulepas jasku dan meletakkannya di atas buffet, lalu aku berjalan menuju bar kecil di ruang dapur. Tapi kedua lengannya menahan pundakku. Nafasku tercekat saat ia melepas baju putih tipisnya. “Tenang,” bisiknya. Jemarinya bergerak lagi. Dengan gerakan yang mengesalkan, ia lalu mendorong tubuhku menjauh menggunakan kedua tangannya. Kamu merusak mood-ku saja.”
“Maaf.




















