“Nih, rokok.”
Chie menyambar bungkus Marlboro di tanganku dan membuangnya ke sudut ruangan. XXX Bokep Bukan emosi terhadap Jay, melainkan terhadap dirinya. Jay terlihat diam, matanya masih terpejam. Bahkan aku pun tidak tahu? Jay menatap kerlipan lampu kota di bawah kaki kami. Chie melambaikan tangannya dari atas balkon. “Chie?” tanyaku. Selamat ulang tahun..!” Jay memukul kepalaku dengan sisi organizernya. Chie mendekap mulutku dengan bibirnya, menjatuhkanku di samping tempat tidur. “Ray…”
Ah! Itulah Chie. Di saat aku pun berjuang melawan desisan hawa nafsu yang bergejolak dalam diriku.“Ray…”
“Ada, pasti ada suatu saat nanti,” desahku. Chie. Jay, kenapa dia bisa setenang itu, kenapa seakan ia tidak mau melihat apa yang sedang terjadi?“Ray, aku sayang kamu,” Chie memelukku dengan kedua lengannya. Akulah Ray.Kuusapkan keringat di wajahku ke kulit dada gadis di bawahku, sebelum aku bangkit berdiri dan memunguti pakaianku, mengenakannya, dan meninggalkan ruangan gelap itu, sesaat setelah Chie merangkulku dari belakang. “Seorang cowok keren dengan pikiran terbuka?”
“Minimal bule, deh.”
Kurasakan Chie meremas lenganku, memberikan










