Di cermin terlihat pantulan muka Tia yang cemberut.“Oo,” gumam Citra tanpa ekspresi, “Beginian. XXX Bokep Terusin aja.” Tia seperti berusaha meraih mukanya—maksudnya mau minta french kiss dari Bram, tapi Bram berkelit. Apa dia malah gak suka aku jadi seperti ini? Tangan satunya lagi mengelus-elus bibir vagina.“Kayak gini Mas?… Gimana… ah… ahhh… Lihat aku Mas…”Bram sendiri sibuk mengocok anunya, sambil terus ngomong.“Ya. Terusin aja ngentot jari-nya.”“Ah… ah… iya Mas… ini kuterusin… engh…” Erangan Tia diseling suara becek dari vaginanya yang dia obok-obok sendiri.“Gimana Tia? Engg… Hahh, iya, iya Mas, ah… ah…”“Ini baru di dalam rumah. Kebetulan warna kulit Tia coklat muda. Bagaimana kalau kita main-main dulu… pikir Bram.“Mas Bram… terusin dong…” pinta Tia. Makanya aku datang minta saran Kak Citra, gimana baiknya aku hadapi masalah ini. Aku pikir-pikir dulu,” bisik Tia, menimbang-nimbang.Ternyata dia perlu waktu lama sekali buat menimbang-nimbang. Keduanya memang dijodohkan oleh orangtua masing-masing yang rekanan bisnis, dan sekarang mereka sama-sama disiapkan jadi penerus usaha keluarga besar




















