Rongga dadaku mulai terasa sesak. Sambil mengusap-usap rambutku, diangkatnya kaki kanannya sehingga roknya semakin tersingkap hingga tertahan di atas pangkal paha.“Suka Jhony?”“Hmm.. Link Bokep Masuk ke dalam, Jhony,” katanya sambil menunjuk kolong mejanya.Aku terkesima. Tapi di balik itu semua, ternyata ia suka mendikte. Terpana mendengar perintahnya.“Kau tidak ingin memeriksanya, Jhony?” tanya Mbak Lia sambil sedikit merenggangkan kedua lututnya.Sejenak, saya berusaha meredakan debar-debar jantungku. Ia berusaha manahan tawanya.“Dan saya yang memilih di bab mana saja yang harus kamu cium, OK?”“Deal, my lady!”“I like it!” kata Mbak Lia sambil bangun dari sofa.Ia melangkah ke mejanya kemudian menarik kursinya hingga ke luar dari kolong mejanya yang besar. Tapi di bab atas lutut kulihat sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Mengelus-elus pergelangan kakinya. Sejak ketika itu mulai terbina suasana dan korelasi kerja yang hangat, tidak terlalu formal. Sangat kontras dengan warna kulitnya. Mbak Lia masih tersenyum. Tak pernah saya melihat paha semulus dan seindah itu.




















