Aq tdk tahan. Bokep Mama Tdk pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Ia menekan-nekan agak kuat. Bau tubuhnya tercium. Atau apalah? Ah sial. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aq belum siap. “Mbak Iin.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Bibirnya sedang tdk terlalu sensual. Apa yg aq harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa?Mendadak jari tanganku dingin semua. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aq. Ke bawah lagi: Tdk. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Kuusap sisa cream. Ah masa bodo. Aq makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Paling tdk ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Iin..,” gumamku dalam hati.Perlu tdk ya kutegur? Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Ah sialan. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aq belum siap.




















