Aku juga seperti dia.Seperti Jay. Sepi kok!” Jay tertawa kecil. Bokep Berteriak-teriak protes di sisi kupingku, karena menurutnya, seandainya saja saat itu tidak ada rencana yang sudah terbentuk, ia pasti sudah melayangkan bogem mentahnya ke rahangku. “Hallo?”
Hening sesaat merasuki suasana. Karena ia adalah temanku, sahabatku, orang yang kukasihi.Jay? Itukah sebabnya kamu diam saja mendengar selorohanku tempo hari? Sepi kok!” Jay tertawa kecil. Siapa suruh diam,” kataku setelah mendudukkan diriku di sampingnya, dan menyimpan bungkus rokok itu di tempat yang aman.“Ah, Ray,” Chie mendesah. Jay terlihat diam, matanya masih terpejam. Menjentikkan jemarinya memanggil saat aku tergopoh-gopoh memungut rokok mahalku sambil menggerutu. Ini pancaran yang jauh lebih dewasa, yang membuatku merasa demikian kecil di hadapannya. “Cukup segitu?” tanya Jayu lagi. Tepat siang itu mereka berdua sudah memutuskan untuk mengakhiri kemunafikan itu. Aku sedikit terguncang. Karena ia adalah temanku, sahabatku, orang yang kukasihi.Jay?




















