Ketika pada ronde berikutnya Aku gantian minta meng-oral dia, sudah kuduga Alia menolak. Juga dia selalu menceritakan masalah yang dia alami dalam berpacaran. Film Porno “Tapi..” Alia bangkit duduk. “Ketemu” pertama kali dengan Alia (begitu saja kusebut namanya) di mailing list group yang mengkhususkan diskusi tentang politik Indonesia. “Nggak kok Yang, bener!”
“Menghibur ya?”
“Tidak, Alia. Bulatan kembar itu memang tak besar, tapi juga tak kecil. “Mau lagi.”
“Kok terus-terusan.”
“Iya dong, kan malam terakhir.”
“Tenang dong. Kembali kami menyatukan tubuhku yang bugil dengan tubuhnya yang masih berpakaian lengkap. Bulatan kembar itu memang tak besar, tapi juga tak kecil. pendek kata, seperti Sophia Latjuba atau Tamara Blezinsky-lah (gimanapun ejaannya).Aku tak secanggih itu, pembaca. Tubuh langsat itu mengkilat tertimpa bias sinar matahari dari jendela kaca. “Nginap di mana?”
“Di Mess Yayasan Anu.”
“Nggak nginap ama gue aja?”
“Enak aja, engga boleh dong, musti ngumpul.”Bagus, nggak boleh bukan berarti tak mau. Walaupun kami saling berjanji untuk berusaha bertemu lagi, tak urung membuatku sedih.




















