Belum lagi suara ibu-ibu di sebelahku ini, yang ya ampun, cerewetnya. Bokep Indo Atau Satin? Aku jengkel banget.Hujan mulai turun. Oh, mereka mau turun.“Mas, duluan, mas …,” kata suaminya ramah, ditimpali ibu itu. Bahkan mengajak bicara pun tidak berani. Mulutnya bagaikan sebuah mesin handal perangsang penis. Aku dibesarkan dalam keluarga yang cukup religius dan sangat teratur. Matanya yang bulat besar memantulkan kilatan cahaya neon di luar bus.Dia memandang ke bawah tubuhku.“Kasihan ya,…” senyumnya menunjuk ke “adikku”. Si anak ternyata sudah tidak ada di pangkuan dia. Putingnya runcing, ukurannya luar biasa, sepanjang buku jari telunjukku. Aku pun bukan orang yang aneh-aneh. Aku jengkel banget.Hujan mulai turun. Tangan dia sepertinya cerdas, kembali mencari sasarannya yang tadi lepas. Dia kembali melanjutkan kulumannya. Agak lama dia membukanya.




















