Padahal si laki-laki sudah membuang senjatanya. Bokeb Ratri lalu bersimpuh di sampingnya. AHAHNN!!”
Akhirnya masuk juga anggota tubuh Bayang Ireng ke kewanitaan Sekar. Sambil dia mulai menggarap bagian baru: bokong Sekar yang berada di atas bayangannya, dia gerayangi juga. Yang ditakutkannya terjadi juga…
“Ah… AHAA!! Keris di pinggang si pendekar berkilatan ketika dia menghunusnya. Sekar dan Ratri menjerit berbarengan ketika kedua sahabat yang terjerat itu dibawa ke puncak swarga birahi oleh lingga-lingga cabul si dedemit hitam. Payudaranya jadi jauh lebih peka. Dia juga mengenakan kemben hitam yang seolah mendorong payudaranya yang montok ke atas. Barulah Bayang Ireng menoleh, kedua matanya yang merah menyala itu melihat ke arah si pendekar. Dia merasa lebih susah menghadapi serangan seperti ini daripada tusukan seribu pedang. Sekar meringis merasakan bayangan Bayang Ireng membentuk jari-jari yang meremas daging susunya dan lidah-lidah yang menyentil pentil-pentilnya.




















