“Bukan, bukan begini. Bokep Aku tak punya alamat, tak punya nomor telepon yang bisa kuhubungi untuk mencapainya. Kami berpagutan, sesekali saling menggigit. Hanya sebuah nama, yang dimiliki berjuta-juta orang. “Thanks,” katanya sambil tersenyum. “Kamu mau mengantarku pulang sekarang?” Dua puluh menit kemudian kami sudah dalam perjalanan. “Apa yang akan terjadi selanjutnya?” tanyaku lirih. Sejuta kesan yang tiada pernah lengkap diurai dengan kata-kata. Kutekan pinggulku kuat-kuat ke depan. Itu yang kurasakan saat menatap wajahnya. “pejamkan matamu.”
Saat kupejamkan mataku, kenikmatan tiada tara merasukiku, kala ia menggerakkan jemarinya yang menggenggam batang kemaluanku. Ajak aku ke rumahmu.” Aku terkesiap. Air dingin membuatku terasa lebih segar. Kutepis lengannya. “Tidak, wajahmu barusan, seperti anak kecil yang baru saja memecahkan kaca jendela. Ia lalu meraih leherku, melingkarkan kedua betisnya di pinggangku.










