“Kamu manis sekali, Von.” bisiknya lagi, sambil melepaskan kacamata saya yang minus tujuh. Sebentar lagi akan libur musim panas selama kurang lebih 2 minggu, jadi saya tidak ingin liburan saya terganggu oleh pikiran tentang kerjaan yang belum kelar. Bokep Tobrut Ia lalu melangkah menghampiri saya dan mengangkat nampan sarapan pagi dari pangkuan saya. Hmm, Indonesian name, isn’t it?” tanyanya lagi, dengan nada datar. Usai melihat-lihat patung lilin di museum itu, tante dan om saya naik kereta kembali ke hotel mereka, sementara saya masih berjalan-jalan di Bakerstreet (tempat museum tadi berada), karena banyak teman asal Indoneisa yang menginap di apartemen-apartemen sekitar situ. Hanya dia, Jenny, yang memberikan semuanya pada saya. Ketika saya bertanya tentang teh itu, Jenny menjawab bahwa teh itu diambilnya dari sebuah hotel kecil tempat ia menagih hutang. Saya memberanikan diri menuruni tangga untuk mengintip apa yang terjadi di ruang bawah. Sebenarnya ia cantik di balik kaca mata biru yang dipakainya, namun gayanya berdiri di depan




















