“Ihhh… lucu ya kalau sudah lemes, kecil!” ia mengejekku. Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum manisnya yang menawan. Bokepindo “Hufff… OK lah,” kataku pasrah. Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum manisnya yang menawan. “Pasti!” kataku. biar enak nanti mijitnya!” “Wahhh… itu nanti aja deh, nanti malah berdiri lagi,” kataku setengah bercanda. baru digitukan aja udah mau keluar, payah kamu,” ledeknya. “Biar aja, habis kamu napsuin sih…” kataku. Aku pun mencabut batang kemaluan ku dan ia pun segera menghisapnya. mau kau apakan adikku?” tanyaku. “OK lah…” Ia mulai mengambil minyak pijat dan memijat tangan dan dadaku.Wahhh ia naik dan duduk di perutku. “Uhhh.. ckk.. pelan dikit doong!” katanya. Aku memang mewarisi bakat ayahku yang merupakan seorang pemburu yang handal, hal inilah yang membuat darah petualangku menggelora. hh.. balikkan badan dong!” pintanya. “Ya udah sana… thanks ya Sayang…” ia pun berlalu sambil tersenyum “Ok.. pijitanmu enak ya?” pujiku.“Nanti kamu akan merasakan yang lebih enak lagi,” jawabnya. berdiri lagi,” katanya girang. hh..




















