No info
Aku masih termangu. Bibirku melumat bibirnya.“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku.“Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Bokep Mom Tetapi, aku harus berani. Keras sekali.“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”Ia berdiri. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Hah..? Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Membuang napas. Bau tubuh wanita setengah baya yang yang meleleh oleh keringat. Hah..? Astaga. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Betul-betul keras. Ia tidak bercerita apa-apa. Sekali. Sudahlah. Aku masih mematung. Garis setrikaannya masih terlihat. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti.





















