Lalu ia mengolesi dadakudengan cream. Bayar arisan.Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Bokepindo Ia tersenyum melihatku.Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan, katanya.Ia mencaricari. Atau janganjangan ia juga disuruhibunya bayar arisan. Aku tidak menjepit tubuhnya.Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Tapi sayagerah. kataku sambil menancapkan Junioramblas seluruhnya.Si Nina, yang tadi. Tetapi aku masihbetah di atas mobil ini. Matanyadikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain dibelakang angkot. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Ah sialan. Bautubuhnya tercium. Ya, seseorang toh dapat saja lupa padasesuatu, juga pada sapu tangan. Ia sudah membereskan peralatanpijat. Ada sekatsekat,tidak tertutup sepenuhnya. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruhbayar arisan.Mbak Wien.., gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Kalau kiniaku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karenapeluhnya yang membasahi leher, pasti karena akuterlalu terbuai lamunan.




















