Ini kesempatan kedua. Bokep Hot Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Kali ini dengan telapak tangan. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Ia tersenyum ramah. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Aku mengurungkan niatku. Bergantian Hawin kini telentang.“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.Kujilati payudaranya, ia melenguh. Dingin. Kini pindah ke paha sebelah kanan.Ia tepat berada di tengah-tengah. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Aku tidak berpakaian kini. Sial. Garis setrikaannya masih terlihat. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun.




















