Dan Tya kerap menyebutnya untuk meledekku.” nihh lagiii yaaa !! Bokep xxx Yaa !!” kata ku seraya meraih lengannya dan menuntunnya ke sebuah dangau (saung) yg terletak tak jauh dari tepi jalan yang biasa kami lewati setiap berangkat atau pulang sekolah.Sebuah dangau panggung berdinding bilik bambu milik pak Imron, yg sepertinya telah di tinggalkan pemiliknya, karena mungkin mereka sudah menebak bahwa hujan akan segera mengguyur.Tya, atau Seftya Wida, adalah tetangga ku, rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumah nenekku, karena sewaktu SMA aku tinggal di rumah nenek ku di sebuah desa yang masih asri dan jauh dari pusat perkotaan, sementara kedua orang tua ku sibuk bekerja di Jakarta. Kini aku hampir 3 tahun menetap di desa ini, dimana jarak yang ku tempuh untuk sampai di sekolah hampir 5 kilo-an. Cinta nya yang begitu besar kepada ku membuatnya tunduk dan patuh, untuk menuruti segala keinginan iblis yang di cintainya.




















